| H HASAN MUSTAFA |
|
|
|
| Written by Administrator |
| Sunday, 09 May 2010 22:45 |
|
Pahlawan Tanah SundaPENGHULU H HASAN MUSTAFA ( PHH MUSTOPA ) Haji Hasan Musthafa adalah sosok Pujangga dan Sastrawan Sunda. Ia lahir pada tanggal 3 Juni 1852 M. bertepatan dengan 4 Sya'ban 1268 H. di Cikajang Garut, sebuah wilayah yang terletak di Bagian Timur Kota Priangan. Dia adalah putera ke tiga dari pasangan Nyi Mas Salpah dan Mas Sastramanggala yang kemudian namanya berubah menjadi Utsman. Hasan Musthafa lahir dalam lingkungan keluarga terpandang. Ayahnya adalah keturunan Tumenggung Wiratanubaya, seorang Bupati di Parakanmuncang, dan menjabat sebagai Camat di Cikajang. Leluhur ayahnya memiliki keterkaitan erat dengan Raja terkenal dari Kerajaan Pajajaran, yaitu Prabu Kiansantang. Sementara itu, ibunya berasal dari keluarga Dalem Sunan Pagerjaya Suci, Garut. Nenek-moyang ibunya berasal dari muslim yang shaleh, yang mencurahkan segenap tenaganya untuk menyebarkan ajaran-ajaran Islam di tengah masyarakat Sunda yang pada saat itu masih menyembah patung-patung. Kebanyakan mereka adalah para Kiai dan pengikut Tarekat Qadiriyah. Selain itu, mereka juga dikenal sebagai pelopor musisi Sunda, yang menciptakan sinom pangrawit, sebuah lagu tradisional Sunda. Atas kekerasan hati ayahnya, sejak kecil Hasan Musthafa ditempat di lingkungan pendidikan pesantren. Ia tidak pernah merasakan pendidikan lewat bangku sekolah. Mula-mula, ia belajar Al-Qur'an kepada seorang Kiai besar di Kiara Koneng, yaitu Kiai Hasan Basari. Memasuki usia delapan, Hasan Musthafa dibawa oleh ayahnya ke Mekkah untuk melakukan ibadah haji. Sepulang dari sana, ia melanglang-buana melanjutkan perjalanannya untuk membekali diri dengan berbagai ilmu pengetahuan agama, seperti fiqh, ushul fiqh, tafsir, mantiq, nahwu, sharaf, balaghah, tauhid, tafsir dan tasawuf. Pengembaraan keilmuannya ia tempuh dengan memasuki satu pesantren ke pesantren yang lain. Ia pun berguru kepada R. H. Yahya di Garut, Kiai ‘Abd. Al-Qahhar di Surabaya, dan kemudian Kiai Khalil di Bangkalan, salah seorang Kiai yang sangat terkenal dan dihormati di kalangan organisasi keagamaan terbesar Nahdlatul Ulama. K.H. Hasyim Asy'ari (pendiri organisasi ini), juga pernah berguru kepadanya. Untuk kedua kalinya, setelah menikahi seorang gadis yang bernama Nyi Mas Liut, Hasan Musthafa pergi ke Mekkah. Kepergiannya kali ini dalam rangka menemani sang istri melakukan ibadah haji. Usia Hasan Musthafa, pada saat itu, sedang menginjak duapuluh tahun. Ketika pergi ke Mekkah, anak pertamanya, Muhammad Wardi, ia titipkan pada neneknya. Selesai menyempurnakan ibadah haji bersama istrinya, Hasan Musthafa tidak langsung pulang ke kampung halamannya, tetapi menetap di sana hingga empat tahun lamanya. Kemudian ia meninggalkan Tanah Suci. Di tengah perjalanan menuju ke kampung halaman ini, sang istri tercinta menghembuskan nafas untuk selamanya. Selama di Mekkah, ia dikaruniai seorang putra yang bernama Muhammad Subki. Kedukaan hati Hasan Musthafa semakin bertambah, karena setibanya di rumah, ia telah di tinggalkan oleh ibu kandungnya. Beberapa tahun kemudian, Hasan Musthafa memutuskan untuk pergi ke Mekkah. Kesempatan kali ini ia gunakan dengan sungguh-sungguh untuk berguru kepada sejumlah Syekh di Mekkah. Di antaranya, Syekh Musthafa ‘Afifi, Syekh ‘Abd. Allah Zawawi, Syekh ‘Abd. Al-Hamid Al-Daghestani, Sayyid Ahmad ibn Zaini Dahlan dan Syekh Muhammad. Menurut keterangan H. Abu Bakar, ia juga berguru kepada Syekh Nawawi Al-Bantani, Syekh Hasb Allah dan Syekh Bakar Al-Satha’. Dari sederetan guru yang disebut ini, semua adalah orang Arab, kecuali Syekh Nawawi Al-Bantani. Sebagai sosok muda yang memiliki ghirah tinggi dalam mencari ilmu, Hasan Musthafa tidak mau kalah dengan para pelajar sezamannya yang mengenyam bangku pendidikan formal. Ia selalu aktif dalam kegiatan pertemuan dan ceramah Masayekh Mekkah. Tak kalah penting, ia juga berusaha keras belajar secara mandiri, tanpa seorang guru (otodidak), dengan membaca literatur-literatur dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan yang dipelajari dalam bangku pendidikan formal. Maka tidak heran, jika ia pun enjoydengan berbagai bidang keilmuan yang menjadi favorit para pelajar pada saat itu, seperti fiqh, hadits, tafsir, tauhid, ushul fiqh, tasawuf, mantiq, nahwu, sharaf, balaghah, qira'ah dan tajwid. Dalam bidang tafsir, Hasan Musthafa menghabiskan waktunya untuk belajar kitab TafsirAl-Jalalain dan Al-Baidhawi di bawah bimbingan Syekh Muhammad, termasuk juga mempelajari Kitab Alfiyah ibn Malik dan Shudhur Al-Dzahab. Sementara itu, ia juga belajar Kitab Tuhfah pada Syekh ‘Abd. Al-Hamid Al-Daghestani. Di samping belajar, Hasan Musthafa masih menyempatkan dirinya untuk mengajarkan ilmunya kepada orang lain di apartemennya yang terletak di Wilayah Al-Qushashiyah, dan Al-Haram. Di sana, ia menjadi guru yang dicintai dan dihormati. Pada saat itu, ia pernah menulis sebuah karangan yang berkaitan dengan puisi Arab yang diterbitkan di Kairo. Pada tahun 1885 M., Hasan Musthafa meninggalkan Mekkah, karena dipanggil oleh H. Muhammad Musa yang –ketika itu– menjadi Penghulu Besar di Garut. Ketika pulang, usianya beru menginjak sekitar tigapuluhtiga tahun. Sekembalinya dari Mekkah, Hasan Musthafa menjadi tokoh (guru agama) yang sangat dihormati. Hal itu tidak lain karena pemahaman dan kedalaman pengetahuannya tentang agama Islam. Apalagi kondisi masyarakat Sunda pada masa itu belum begitu mendalam dalam memahami Islam. Meski pun secara formal orang-orang Sunda memeluk Islam, namun penyebaran pendidikan dan dakwah Islam sangat terbatas. Hanya mereka yang belajar ke pesantren saja yang memperoleh pengetahuan mendalam tentang agama Islam. Kurangnya pengetahuan masyarakat Sunda tentang agama Islam, memaksa Hasan Musthafa untuk mempergunakan lambang-lambang yang terdapat dalam tradisi Sunda itu sendiri. Oleh karena itu, ia seringkali menerjemahkan kata-kata bahasa Arab ke dalam bahasa Sunda, dengan cara menggunakan lambang dan metafor yang akrab dengan lingkungan kebudayaan setempat. Setidaknya, ini pernah ia nyatakan dalam Petikan Qur'an Katut Adab Padikana: "Baheula ku basa Sunda ahir ku basa Arab jadi kaula nyundakeun Arab nguyang ka Arab, ngarabkeun Sunda tina basa Arab" (Dahulu dengan bahasa Sunda, belakangan dengan bahasa Arab, jadi aku menerjemahkan Arab ke dalam bahasa Sunda meminta bantuan kepada Arab, menerjemahkan Sunda ke dalam bahasa Arab dari bahasa Arab). Di tengah masyarakat yang pengetahuan agamanya minim itu, Hasan Musthafa harus menyampaikan dan menyebarkan ajaran Islam dalam bentuk lain yang tidak biasa digunakan oleh para tokoh agama di pesantren-pesantren. Ia memilih bentuk tembang, yang dianggapnya sudah menjadi milik masyarakat Sunda, untuk menyampaikan ajaran Islam sebagaimana yang dipahaminya. Pendalamannya secara intensif terhadap Islam, semakin memperlihatkan orientasi yang berbeda dari umumnya puisi tembang yang banyak di tulis dalam bahasa Sunda. Ia tidak saja mumpuni dalam hal keagamaan Islam, tetapi ternyata mampu merespon kondisi yang berkembang di sekitarnya, yaitu menjadikan tradisi setempat sebagai media untuk menyebarkan ajaran Islam. Hal yang sangat jarang dimiliki oleh tokoh agama pada saat itu. Luasnya pengetahuan Hasan Musthafa tentang wawasan keagamaan dan masalah keduniawian inilah yang membuat Snouck Hurgronje mengusulkannya untuk menduduki jabatan Penghulu Kepala (Hoofd Penghulu) di Kutaraja Aceh. Ini bisa dilihat dari pernyatakan Snouck Hurgronje dalam Surat Rahasia-nya yang ditulis pada tanggal 26 Oktober 1892 M., dikirim kepada Kepala Gubernur Sipil dan Militer Aceh dan daerah taklukkannya di Kutaraja. Berkali-kali tawaran Snouck Hurgronje untuk mengisi lowongan jabatan Penghulu di Kutaraja, ditolak Hasan Musthafa. Namun, berkat desakan yang lihai dari Snouck Hurgronje, disertai dengan penegasan bahwa di Aceh, ia akan menemukan lingkungan kerja yang pantas disyukuri dan juga penghargaan dari pihak para pegawai Bangsa Eropa, Hasan pun mengesampingkan keberatan-keberatan itu. Akhirnya, ia menerima pengangkatan sebagai Penghulu Kepala, meski pun gajinya kecil, tidak melebihi gaji seorang juru tulis pribumi. Kemudian Hasan Musthafa di angkat secara resmi sebagai Penghulu Kepala (Hoofd Penghulu) Kutaraja Aceh melalui Besluit (Surat Keputusan Pengangkatan) No. 23, tanggal 13 Januari 1893 M. Namun ia baru tiba di Aceh dan memulai pekerjaannya pada tanggal 22 Februari 1893 M. Jabatan sebagai Penghulu Kepala (Hoofd Penghulu) di Kutaraja ini pun tidak berlangsung begitu lama, hanya dua tahun. Keputusan untuk mengundurkan diri dari jabatan yang cukup bergengsi –menurut ukuran saat itu, diambil Hasan Musthafa karena munculnya kecurigaan terhadap dirinya dari sebagian kalangan Pejabat Pemerintahan di sana. Bahwa setiap apa yang dinyatakan Hasan Musthafa, dianggap "berat sebelah" dan "tidak selalu dipercaya." Hal ini disebabkan karena ia –dalam pandangan mereka– sangat dekat dengan orang Arab dan orang Keling. Kecurigaan tersebut, semakin membuat diri Hasan Musthafa putus asa dan tertekan, hingga pada suatu saat, ia meminta cuti pulang ke Jawa untuk beberapa waktu karena sakit demam yang dideritanya. Namun, permintaan cutinya tidak dikabulkan. Karena menurut ketentuan yang belaku, tidak membolehkan cuti seperti itu bagi seorang Penghulu. Akhirnya, sesuai dengan besluit tertanggal 9 September 1895 M., Hasan Musthafa di pindah-tugaskan menjadi Penghulu Kepala (Hoofd Penghulu) di Bandung, menggantikan jabatan Penghulu yang di duduki oleh K.H. ‘Abd. Allah Siradj. Pengangkatannya di Bandung tidak terlepas dari usaha Snouck Hurgronje untuk meyakinkan Pemerintah Belanda akan kelayakannya menempati posisi ini: bahwa Hasan Musthafa akan lebih efektif jika di pindah ke Bandung. Jabatan lain yang dipercayakan oleh pihak Pemerintahan Hindia Belanda kepada Hasan Musthafa setelah kembali dari Kutaraja, bahwa ia pada tahun 1915 M. di angkat menjadi anggota sebuah komite yang bernama "Menolong Hadji-hadji Bermoekim di Mekkah." Komite ini beranggotakan lima orang, di antaranya R.A.A. Achmad Djajadiningrat (Regent di Serang), R. Pengoeloe Tafsir Anom (Kepala Penghulu di Surakarta), H.O.S. Tjokroaminoto (Presiden Sarekat Islam), D.A. Rinkes (Penasehat Urusan-urusan Pribumi), dan H. Hasan Musthafa (Penghulu Kepala di Bandung). Tujuan utama di bentuknya Komite tersebut adalah untuk mengevakuasi kawula-kawula muslim Hindia Belanda (Indonesia) yang bermukim di Hijaz, karena mereka menghadapi problem ekonomi, yaitu kehabisan bekal. Realitas ini diakibatkan, berkecamuknya perang di Timur Tengah sehingga biaya keseharian di sana melonjak. Tujuan yang kedua adalah menjadi perantara antara orang-orang yang tinggal di Hijaz dengan keluarga mereka di Hindia Belanda; dan tujuannya yang ketiga, menyampaikan bantuan keuangan ke tempat yang dikehendaki. Di tengah-tengah kesibukannya menjalankan tugas kepemerintahan, Hasan Musthafa telah aktif berkarya. Ketika masih menjabat Penghulu Kepala di Kutaraja misalnya, ia sempat menulis sebuah buku yang bertajuk "Kash Al-Sara'ir fi Haqiqat Atjih wa Al-Fis.," Buku ini, berisi sekitar 150 tanya-jawab seputar kondisi sosial, budaya dan politik di Aceh waktu itu. Pada fase pasca menjadi penghulu Kepala di Kutaraja, merupakan fase aktif-aktifnya Hasan Musthafa dalam berkarya. Beberapa hasil karya tulisnya dalam bentuk guguritan, pernah dimuat di dalam Majalah Warga dan Surat Kabar Sipatahoenan. Di antara tulisannya yang cukup berpengaruh dalam membentuk citra tentang dirinya dalam masyarakat Sunda adalah Buku Carita Jeung Sajarah Juragan Haji Hasan Mustapa (t.t.) dan Buku Singa Bandung (t.t.). Ke dua buku ini sebagian menceritakan tentang sosok Hasan Musthafa disertai dengan data biografi, dan sebagian lagi berisi tentang cerita-cerita anekdot. Dalam beberapa karangan lainnya, Hasan Musthafa tampak lebih cenderung pada dunia mistik daripada syari’ah. Ia telah menyebut dirinya sebagai pengikut Tarekat Shattariyah. Sebagaimana kaum sufi yang lain, ia mempunyai teori mistik yang cukup terkenal, yaitu tentang teori “Tujuh Tingkatan” (Martabat Tujuh). Teorinya ini, terdapat dalam Buku Aji Wiwitan yang telah di bagi menjadi tujuhbelas bab; di antaranya (1) Aji Wiwitan Istilah, (2) Aji Wiwitan Petikan Ayat Kur'an Suci, (3) Aji Wiwitan Gelarasan, (4)Aji Wiwitan Martabat Tujuh, (5) Aji Wiwitan Bale Bandung, (6) Aji Wiwitan Patakonan, (7)Aji Wiwitan Basa Kolot, (8) Aji Wiwitan Carita Rajaban Nepi ka Puasa, (9) Aji Wiwitan Basa Lancaran, (10) Aji Wiwitan Mi'raj 1343, (11) Aji Wiwitan Verslag (I), (12) Aji Wiwitan Verslag (II), (13) Aji Wiwitan Verslag (III), (14) Aji Wiwitan Aji Saka, (15) Aji Wiwitan Gendingan Dangding Sunda (I), (16) Aji Wiwitan Gendingan Dangding Sunda (II), (17) Aji Wiwitan Gendingan Dangding Sunda (III). Meskipun Hasan Musthafa telah menyatakan dirinya sebagai pengikut Tarekat Shattariyah, namun paham mistik yang di kembangkan sangat bersifat unik, bahkan kontroversial. Karena, ia telah menggabungkan doktrin sufinya dengan muatan kultur lokal (Sunda). Tidak hanya itu, dalam ajaran-ajaran keagamaannya yang lain, yang ia sampaikan memiliki muatan kultur lokal yang sangat kental. Maka tidak mustahil, kalau sosok kepandaiannya, digambarkan dengan "ulama mahiwal," yaitu lain daripada yang lain. Sosok kekontroversialannya ini, kemudian mendapat tanggapan keras dari Sayyid ‘Abd. Allah ‘Utsman ibn ‘Abd. Allah, seorang mufti dan ulama terkemuka di Batavia. Pada November 1902 M., ia menulis dua artikel yang dimuat dalam media massa berbahasa Arab di Mesir, Misbah Al-Sharq, dengan judul Shakwa Al-Muslimin dan Al-Radd ala Shaitani Bandunj fi Ithbat Al-Hayy Al-Qayyum. Yang menjadi keberatan dan fokus kritikan Sayyid ‘Utsman adalah pertama; pandangan keagamaan Hasan Musthafa yang –menurutnya– telah menyimpang dari implementasi syari’ah, dan kedua; kedekatan Hasan Musthafa dengan Snouck Hurgronje. Karangan-karangan Hasan Musthafa, sebenarnya, tidak semuanya ditulis dengan tangannya sendiri. Namun sebagian di diktekan dan kadang disalin oleh M. Wangsadiredja, seorang Sekretaris Pribadi Hasan Musthafa. Orang lain yang juga turut berjasa dalam memperkenalkan karya Musthafa adalah M. Wangsaatmadja, karena ditangannyalah sebagian tulisan Musthafa di publikasikan. Ada pun beberapa karya Hasan Musthafa yang sudah pernah diterbitkan maupun yang masih berbentuk naskah, baik yang ditulis oleh dirinya sendiri maupun yang didiktekan kepada Wangsaatmadja, adalah sebagai berikut:
Haji Hasan Musthafa meninggal dunia pada hari Senin, 13 Januari 1930 M. Usianya genap mencapai 78 tahun. Jenazahnya dikebumikan di Karang Anyar, di sebuah pemakaman Kaum Ningrat di Bandung. Kini, sosok seperti Haji Hasan Musthafa telah semakin mendapatkan tempat di hati masyarakat Sunda khususnya, dan masyarakat Indonesia umumnya. Lebih-lebih, pada tahun 1977 M. ia mendapat hadiah seni dari Presiden Republik Indonesia sebagai Sastrawan Daerah Sunda.
|