PERANG BOJONG KOKOSAN PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Sunday, 09 May 2010 22:59

PERJUANGAN RAKYAT JAWA BARAT

MEMPERTAHANKAN DAN MENEGAKKAN
KEDAULATAN REPUBLIK INDONESIA DARI RONGRONGAN SEKUTU (1945-1946)

Abstraksi

Pada awal kemerdekaan negera Republik Indonesia, rakyat Jawa Barat ikut aktif dalam perjuangan mempertahankan dan menegakkan kedaulatan negara Republik Indonesia dari berbagai rongrongan dan gangguan, baik yang datang dari luar maupun dari dalam negeri. Perjuangan rakyat Jawa Barat tercermin dalam bentuk pertempuran-pertempuran yang terjadi di hampir seluruh wilayah Jawa Barat. Berkobarnya pertempuran itu menunjukkan gigihnya semangat perlawanan rakyat Jawa Barat menentang segala upaya Belanda yang ingin kembali menguasai Indonesia.

Pendahuluan

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, telah membawa rakyat Indonesia untuk memasuki tahapan baru, yaitu tahapan untuk memepertahankan dan mengisi kemerdekaan. Upaya tersebut tidak dapat berjalan mulus, karena masih adanya upaya Belanda un-tuk kembali ke Indonesia. Oleh karena itu, upaya awal dalam mengisi kemerdekaan Indonesia adalah upaya mempertahankan kemerdekaan itu sendiri dari rongrongan luar yang hendak menghancurkan kemerdekaan Indonesia, terutama dari pihak Belanda dan Sekutu.

Upaya mempertahankan kemerdekaan itu tidak hanya dilakukan oleh pemerintah Republik Indonesia, tetapi seluruh rakyat Indonesia. Rakyat Jawa Barat sebagai bagian dari rakyat Indonesia, ikut andil dalam upaya menegakkan dan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mereka bergabung dalam berbagai kesatuan BKR dan laskar rakyat.

Tentara Sekutu datang ke Jawa Barat

Penyerahan Jepang tanpa syarat kepada Sekutu pada tanggal 14 Agustus 1945, ditandatangani secara resmi tanggal 2 September 1945 di atas kapal perang Sekutu "Missouri" yang berlabuh di teluk Tokyo. Dengan demikian, sejak saat itu secara yuridis, Indonesia telah berada di bawah kekuasaan Sekutu. Sedangkan, secara de facto, Indonesia masih tetap berada di bawah kendali tentara Jepang karena Sekutu masih berada di luar Indonesia.

Sementara itu, pemerintah Inggris dan Belanda pada tanggal 24 Agustus 1945 melakukan perjanjian Civil Affairs Agreement yang isinya mengakui kedaulatan Belanda atas Indonesia yang tidak boleh disentuh oleh Sekutu. Untuk melaksanakan pemerintah sipil di Indonesia, maka dikirim NICA, yang pelaksanaannya diawasi oleh tentara Sekutu. Sesuai perjanjian tersebut, tentara Belanda datang ke Indonesia dengan mendompleng pada tentara Sekutu, dan bahkan memakai pakaian Sekutu.

Panglima tentara Sekutu, Letnan Jenderal P. Christison mengetahui bahwa tugas tentara Sekutu di Indonesia tidak akan berhasil tanpa bantuan Pemerintah Republik Indonesia. Oleh karena itu, Christison berusaha melakukan pendekatan dengan pemerintah Republik Indonesia.

Adanya itikad baik dari panglima tentara Sekutu itu disambut dengan baik oleh pemerintah Repu-blik Indonesia. Oleh karena itu, Pemerintah Indonesia menyambut kedatangan tentara Sekutu dengan sikap netral dan tangan terbuka, apalagi setelah adanya pengakuan de facto dari Panglima AFNEI (Sekutu) tersebut. Sikap pemerintah Indonesia itu segera berubah setelah diketahui ternyata tentara Sekutu (yang terdiri atas tentara Inggris) membawa serta tentara NICA (Belanda). Tentara NICA dengan terang-terangan berusaha menegakkan kembali kekuasaan Hindia Belanda. Hal ini menimbulkan sikap curiga bangsa Indo-nesia terhadap sepak terjang tentara Sekutu.

Situasi keamanan di Indonesia memburuk sejak kedatangan tentara NICA. Hal diperparah dengan tindakan tentara NICA yang mempersenjatai orang-orang KNIL yang baru dilepaskan dari tawanan Jepang. Orang-orang KNIL dan NICA di beberapa kota di Jawa Barat, seperti Bandung, Bogor, dan Sukabumi selalu memancing kerusuhan dengan cara menakut-nakuti, menggeledah rumah, dan bahkan menangkap rakyat yang dicurigai menjadi atau membantu para pejuang Indonesia. Keadaan ini terus memanas dan akhirnya menimbulkan kontak senjata antara para pejuang Indonesia dengan tentara Sekutu dan Belanda.

Front Pertempuran di Jawa Barat

1. Pertempuran di Kota Bandung

Tentara Sekutu datang ke Indonesia untuk mengurus penyerahan kekuasaan dari tangan Jepang, memulihkan keamanan dan ketertiban, serta memulangkan tawanan tentara Jepang ke negara asalnya. Dalam tugasnya ini, tentara Sekutu banyak disusupi oleh tentara NICA Belanda yang terang-terangan berusaha memulihkan kekuasaannya kembali di Indonesia. Oleh karena itu, kedatangan tentara Sekutu di berbagai kota telah menimbulkan rasa curiga bahkan permusuhan dari rakyat dan para pejuang Indonesia.

Untuk mengantisipasi hal di atas dan untuk ketentraman rakyat Jawa Barat, Gubernur Jawa Barat, Sutardjo Kartohadikusumo dan Lembaga Komite Nasional Indonesia Daerah (KNID) Jawa Barat, BKR dan lasykar rakyat pada tanggal 8 Oktober 1945 mengadakan pertemuan untuk membahas rencana kedatangan tentara Sekutu ke daerah Jawa Barat. Pertemuan memutuskan bahwa pada dasarnya masyarakat Jawa Barat menolak kedatangan tentara Sekutu di Jawa Barat(Mohammad Rivai, 1983: 71).

Sikap tegas rakyat Bandung terhadap tentara Sekutu tampak dalam pelaksanaan rapat akbar di Lapangan Tegalega Bandung. Ra-pat dihadiri oleh ribuan rakyat dari berbagai lapisan dan berasal dari segenap penjuru Bandung. Rakyat yang memadati lapangan Tegalega membawa poster-poster yang ber-tuliskan semboyan-semboyan per-juangan yang menolak kedatangan tentara Sekutu(Suara Merdeka, 2 Oktober 1945: 3).

Oleh karena itu, untuk memasuki daerah Jawa Barat, tentara Sekutu terlebih dahulu mengadakan perundingan dengan pimpinan pe-merintah pusat Republik Indonesia di Jakarta. Pemerintah Indonesia mengijinkan tentara Sekutu masuk ke Jawa Barat asal tetap menjaga keamanan dan melaksanakan tugas sesuai dengan tugas-tugas yang diembannya. Akhirnya, tokoh-tokoh Jawa Barat dengan perasaan berat harus tunduk pada keputusan pemerintah pusat dan terpaksa menerima kedatangan pasukan Sekutu, tetapi dengan syarat tentara Sekutu tidak membawa tentara Belanda.

Tentara Sekutu Brigade Mc Donald dari Divisi India ke-23 pada tanggal 12 Oktober 1945 tiba di kota Bandung, dengan menumpang kereta api. Kehadiran tentara Sekutu telah mengubah keadaan kota Bandung secara drastis. Rakyat Bandung yang gembira karena kemerdekaan baru diproklamirkan menjadi tegang dan penuh kecurigaan. Apalagi ternyata, tentara Sekutu telah menyelundupkan tentara NICA Belanda ke kota Bandung dengan memakai pakaian tentara Sekutu.

Suasana kota Bandung menjadi genting. Tindakan tentara Sekutu dan NICA Belanda dengan jelas ber-usaha menguasai kota Bandung. Mereka dengan terang-terangan mempersenjatai interniran Indo-Belanda yang baru dibebaskan dari tawanan Jepang dan membujuk serta merekrut sebagian rakyat Bandung untuk menjadi mata-mata. Tindakan tersebut telah memancing kemarahan rakyat dan para pejuang Bandung, sehingga bentrokan senjata tidak dapat dihindari. Pertempuran antara para pejuang dan rakyat Bandung dengan tentara Sekutu dan Belanda terjadi diber-bagai tempat di kota Bandung.

Para pejuang Bandung dengan semangat yang tinggi berhasil memukul mundur tentara Sekutu di berbagai front. Melihat situasi dan posisi tentara Sekutu yang tidak menguntungkan dan dalam keadaan terdesak, maka Brigjrn Mac Donald mengeluarkan ultimatum terhadap Gubernur Jawa Barat. Ultimatum itu berisi agar para pejuang Bandung yang berkedudukan di daerah Bandung utara segera pindah ke Bandung Selatan. Batas Bandung utara dan selatan adalah rel kereta api. Sedangkan batas Bandung Utara sebelah utara adalah enam kilometer dari rel kereta api atau daerah Setiabudi.

Akibat tekanan politik Sekutu dan mempertimbangkan keselamatan rakyat yang tidak berdosa, akhirnya pemerintah Jawa Barat memerintahkan para pejuang yang berada di daerah Bandung utara agar pindah ke Bandung Selatan. Para pejuang dengan dengan berat harus taat kepada pimpinan akhirnya pindah ke selatan dan sebagian lain pindah ke daerah sebelah utara lagi, yaitu ke sekitar Bumi Siliwangi (Sekarang Kantor IKIP Bandung).

Bandung Utara telah dikosongkan dari para pejuang dan rakyat Bandung yang tidak mau bekerja sama Sekutu. Meskipun demikian, para pejuang tidak rela apabila tentara Sekutu hidup tenteram. Para pejuang dari selatan atau utara terus melakukan serang-an sporadis terhadap kedudukan tentara Sekutu dan Belanda.

Akibat serangan terus menerus dari para pejuang dan laskar Bandung, telah mendorong panglima AFNEI di Jakarta mengirim-kan pasukan tambahan ke kota Bandung. Pasukan tambahan Seku-tu didatangkan melalui jalan darat dan udara. Adanya bantuan pasukan tersebut membuat kedudukan tentara Sekutu menjadi kuat. Oleh karena itu, tentara Sekutu berusaha meningkatkan serangan ke daerah-daerah yang masih dikuasai para pejuang Bandung. Upaya tentara Sekutu mendapat perlawanan keras dari para pejuang dan rakyat Bandung, pertempuran terjadi di berbagai pelosok kota, seperti di Jalan Lengkong Besar, Cicadas, Tegalega, dan Pasir Kaliki.

Adanya serangan tentara Sekutu yang terus menerus tidak membuat gentar para pejuang. Para pejuang membalas dengan me-lakukan pencegatan terhadap konvoi tentara Sekutu di Fokker Weg (Sekarang Jalan Nurtanio). Pertempuran di Jalan Fokker merupa-kan pertempuran yang terhebat dan kemenangan berada di pihak para pejuang Bandung. Kekalahan ten-tara Sekutu itu membuat pemim-pinnya marah dan malu, karena dipecundangi oleh pasukan yang jumlah dan persenjataannya jauh di bawah mereka(Djen Amar, 1963: 120-123).

Panglima tentara Sekutu di Jakarta yang telah mendapat lapo-ran tentang keadaan di Kota Bandung, segera menyampaikan ultimatum kepada pemerintah Indonesia, yaitu Perdana Menteri Syahrir. Ultimatum itu berisi agar daerah Bandung dikosongkan dari pasukan bersenjata. Pengosongan harus dilaksakan paling lambat tanggal 24 Maret 1946 sebelum pukul 22.00 WIB. Apabila tidak dilaksanakan, maka akan tentara Sekutu akan melakukan serangan besar-besaran ke kota Bandung.

Para pemimpin TRI kota Bandung, yaitu A.H. Nasution, Sukanda Bratamanggala, Aruji Kartasasmita, dan Mashudi menga-dakan pertemuan di Jalan Lengkong Kecil untuk membicarakan ultimatum Panglima tentara Sekutu. Pertemuan memutuskan untuk menolak ultimatum Sekutu, lebih baik bertempur sampai titik darah penghabisan daripada harus me-ninggalkan Kota Bandung. Pada saat yang hampir bersamaan terdapat perintah pemerintah pusat di Jakarta agar mengosongkan kota Bandung agar tidak jatuh korban dikalangan rakyat sipil yang sia-sia. Akhirnya dengan berat hati, Ko-mandan Divisi III, A.H. Nasution dan para pemimpin Jawa Barat lainnya mengambil keputusan untuk meninggalkan kota Bandung. Meskipun demikian, para pejuang Bandung bertekad agar kota Bandung tidak dapat dimanfaatkan oleh tentara Sekutu maka akan dibumihanguskan, terutama fasilitas atau kantor-kantor penting.

Pada tanggal 24 Maret 1946 malam, seluruh tentara Iandonesia yang bertugas melakukan bumi hanguis telah bergerak ke sasaran masing-masing yang telah ditentu-kan. Mereka menunggu perintah dari pimpinan Divisi III yang berupa ledakan bom pukul 21.00 WIB. Tepat pada pukul 21.00 WIB. terdengar ledakan dasyat dari daerah Bandung Selatan yang menjadi tanda dimulainya pembumihangusan dan serangan terhadap fasilitas-fasilitas penting yang dikuasai tentara Sekutu.

Pada malam itu, langit Bandung selatan memerah karena kebakaran di mana-mana. Sejak dari daerah Cimindi sampai Ujungberung kebakaran memusnahkan bangunan dan barang-barang di sekitarnya dengan diselingi dentuman dan ledakan dahsyat. Tentara Indonesia di bawah komando langsung Panglima Divisi III Siliwangi, A.H. Nasution, membakar sendiri markas TRI, asrama prajurit, dan bangunan penting lainnya.

Sementara itu, penyerangan yang dilakukan anggota Batalyon Bandung Utara berhasil menghancurkan asrama polisi di Suka-jadi dan pembangkit listrik Dago Pakar. Serangan terhadap gedung di Jalan Jawa dan sekitarnya gagal, karena bahan peledak yang digunakan tidak mampu menghancur tempat tersebut.

Serangan para pejuang Bandung terhadap kedudukan tentara Sekutu di Bandung Utara menimbulkan kemarahan mereka. Keesokan harinya, tentara Sekutu dengan mengerahkan pesawat terbang melakukan pemboman terhadap kedudukan dan tempat pengungsian para pejuang yang berada di daerah Dayuehkolot, Ujungberung, Soreang, Lembang dan tempat-tempat yang diperkira-kan menjadi tempat persembunyian para pejuang. Serangan tentara Sekutu itu tidak melumpuhkan kekuatan tentara Indonesia, karena tentara Indonesia telah meninggalkan daerah tersebut.

2. Pertempuran di daerah Bogor

Pada awalnya, kedatangan tentara Sekutu ke Bogor tidak mendapat perlawanan dari tentara Indonesia dan laskar rakyat. Akan tetapi, akibat tindakan tentara Sekutu yang sewenang-wenang maka sejak Desember 1945 mulai terjadi konflik berupa konflik senjata. Insiden terjadi di jalan raya yang menghubungkan Jakarta dengan Bandung dan Sukabumi. Insiden itu merupakan usaha pihak TRI untuk melakukan penghada-ngan terhadap konvoi Sekutu yang menuju Sukabumi dan Bandung.

Adanya gangguan terhadap konvoi Sekutu oleh laskar setempat itu, dibalas oleh Sekutu dengan se-rangan terhadap kampung-kampung yang ada di sekitar jalan raya, seperti Ciawi, Pacet, Cugenang, Ciranjang, Rajamandala, Cipatat, dan Padalarang. Serangan balasan dilakukan dari darat dan udara.

Pada awal Maret 1946, Panglima Divisi III Kolonel A.H. Nasution dipanggil oleh Panglima Komandemen Jawa Barat Mayor Didi Kartasasmita. Mayor Didi Kartasasmita memerintahkan Kolonel A.H. Nasution untuk sedapat mungkin memutuskan hubungan Sekutu dari Bogor-Bandung.

Setelah mendapat perintah tersebut, A.H. Nasution segera memangil para komandan resimen. Para komandan resimen diberi tugas untuk melakukan serangan besar-besaran terhadap konvoi tentara Sekutu dan kedudukan Sekutu di sekitar Kota Bandung. Resimen 3 yang dipimpin Kolonel Edi Sukardi ditugaskan untuk menghantam vak Puncak-Citarum, Resimen 6 pimpinan Mayor Umar Bakhsan ditugaskan menyerang vak Cianjur-Padalarang dari sebelah utara, dan Resimen 9 pimpinan Letkol Gandawijaya ditugaskan menyerang vak Cianjur-Padalarang dari arah Selatan. Dalam rencana ini, para komandan re-simen harus melibatkan rakyat setempat dalam membuat rintangan-rintangan jalan, sedangkan anggota resimen melakukan pengrusa-kan jembatan-jembatan.

Serangan TRI dan laskar rakyat terhadap konvoi Sekutu yang cukup besar terjadi di daerah Bojong Kokosan atau dikenal sebagai Peristiwa Bojong Kokosan. Peristiwa ini sempat menggegerkan Perlemen Inggris(A.H. Nasution, I 1971: 90).

3. Pertempuran di daerah Sukabumi

Sukabumi merupakan daerah perkebunan yang menguntungkan dan dapat dijadikan sebagai benteng pertahanan yang baik bagi Belanda/NICA. Oleh karena itu, para pejuang Sukabumi berusaha mempertahankan Sukabumi dengan sekuat tenaga agar tidak jatuh ke tangan Belanda. Komandan Resimen III, Letkol Edi Sukardi memberikan instruksi untuk berdislokasi pasukan, yaitu batalyon yang berkedudukan di kota Sukabumi dipindahkan ke luar kota atas dasar strategis dan teknis pertempuran.

Pertempuran pertama antara tentara Sekutu dengan para pejuang Sukabumi terjadi di daerah Gekbrong. Pertempuran terjadi karena adanya serangan para pejuang Sukabumi terhadap konvoi Sekutu/NICA yang menuju Bandung. Akibat serangan itu, tentara Sekutu dan NICA kembali datang ke Sukabumi dengan konvoi besar sebanyak kurang lebih 100 truk(Badan Pengelola Monumen Pa-lagan Perjuangan 1945, 1986: 15).

TKR dan laskar rakyat yang mengetahui akan kedatangan tentara Sekutu, berkumpul di daerah Gekbrong sekitar 10.000 orang. Pada pukul satu siang di daerah Pancuran Luhur (tidak jauh dari Gekbrong) terjadi pertempuran sengit antara pejuang Sukabumi melawan tentara Sekutu. Pertempuran berlangsung sampai pukul 17.00 sore. Akibat perbedaan senjata menyebabkan para pejuang Sukabumi tidak dapat menahan serangan Sekutu. Untuk meng-hindari korban yang lebih banyak, TRI dan laskar rakyat mundur dan membiarkan tentara Sekutu me-lanjutkan perjalanan ke arah Bogor(wawancara dengan Mohtar K, tanggal 12 Juni 1997).

Pertempuran terus merembet ke daerah lain. Pada tanggal 2 Desember 1945 mulai terjadi pertempuran di daerah Bojong Kokosan. Pada tanggal 9 Desember 1945, para pejuang Sukabumi melakukan penghadangan terhadap konvoi tentara Sekutu sehingga terjadi pertempuran yang dasyat. Pertempuran ini dikenal sebagai Peristiwa Bojong Kokosan, yang menimbulkan korban yang banyak dikedua belah pihak.

Peristiwa di atas terjadi, berawal dari adanya berita yang diterima para pejuang Sukabumi di Pos Cigombong, bahwa tentara Sekutu sedang menuju Sukabumi. Mendengar berita tersebut, Kompi III yang dipimpin Kapten Murad dan kepala seksi I dan seksi II serta laskar rakyat Sukabumi berusaha menduduki tempat pertahanan di pinggir (tebing) utara dan selatan Jalan Bojong Kokosan.

Barisan TKR yang ikut terlibat dalam peristiwa Bojong Kokosan diperkuat 165 orang yang bersenjata senapan Ediston/ Hamburg, Bou-man/Double Loap, Pistol Parabelm, granat tangan, dan senjata tajam (golok, tombak, dan bambu run-cing) serta senjata buatan sendiri berupa botol berisi bensin yang di-sumbat karet mentah yang disebut "krembing" (granat pembakar). Sedangkan laskar rakyat didukung oleh Barisan Banteng pimpinan Haji Toha, Hisbullah pimpinan Haji Akbar, dan Pesindo. Barisan laskar rakyat bersenjatakan Kara-ben Jepang, pistol, dan bom molotov(Badan Pengelola Monumen: 20).

Sekitar pukul 15.00, konvoi tentara Sekutu datang. Konvoi di-dahului dengan tank, panser wagon, 100 truk berisi pasukan Gurkha dan pembekalan, serta dilindungi 3 pesawat terbang pemburu. Pada saat mendekati Bojong Kokosan konvoi berhenti karena terhalang barikade yang dibuat para pejuang Sukabumi. Adanya barikade ter-sebut membuat tentara Sekutu terlihat panik dan bersiaga. Pada saat itulah, Kapten Murad, komandan kompi III memberi isyarat dengan tembakan dua kali, sebagai tanda mulai penyerangan. Terjadilah pertempuran sengit. Para pejuang segera melemparkan granat tangan, granat krembing, dan tembakan. Serangan ini mengakibatkan korban jatuh di pihak tentara Sekutu(wawancara dengan M. Sholeh Shafei, tanggal 12 Juni 1997).

Dalam situasi kacau, koman-dan tentara Sekutu berhasil meng-konsolidasi pasukannya dan mengetahui lakasi pertahanan para pejuang Sukabumi. Tentara Sekutu segera menembaki kubu-kubu pertahanan para pejuang dengan senjata berat dari tank dan panser. Tanah tebing yang dijadikan kubu pertahanan jebol dan longsor sehingga beberapa pejuang yang berada di kubu pertahanan terjatuh ke jalan raya yang berada di bawahnya. Para pejuang yang jatuh tersebut menjadi sasaran empuk senjata tentara Sekutu.

Dalam situasi yang tegang, tiba-tiba sebuah panser kecil berhenti di depan salah satu kubub pertahanan. Panser tersebut berpenumpang dua orang. Salah seorang memakai baret hitam dan seorang lagi memakai ubel-ubel yang diperkirakan sebagai pim-pinan pasukan. Salah seorang penumpang keluar dari kendaraan dan melihat sekelilingnya. Dia mengira situasi telah aman dan dengan santai mengisap rokok cangklong sambil tertawa-tawa.

Tentara TRI yang berada di tebing mendapat perintah dari komandan seksi II agar menembak tentara Sekutu yang memakai baret hitam. Tembakan mengenai sasaran dengan tepat. Melihat temannya tertembak, tentara Sekutu yang berada di dalam mobil berusaha menolong. Pada saat mereka turun dari mobil diberondong oleh tembakan tentara TKR dan laskar rakyat.

Adanya kejadian tersebut, tentara Sekutu meningkatkan ke-waspadaan. Mereka melakukan gerakan melambung dari samping dan belakang untuk mengurung dan menyergap tentara TKR. Dengan demikian, kedudukan TKR menjadi terjepit dan panik karena kehabisan peluru. Pada saat yang kritis, tiba-tiba turun hujan lebat disertai kabut. Suasana menjadi gelap sehingga para pejuang berhasil meloloskan diri dari kepungan tentara Sekutu. TKR seksi II yang dipimpin Letnan Muda D. Kusnadi mundur ke arah Parungkuda. TKR seksi I yang dipimpin Letda Mustar mundur ke arah perkampungan Bojong Kokosan atau sebelah utara (sekitar 300 meter) dari medan pertempuran(Badan Pengelola Monumen: 22).

TKR yang bergerak mundur secara diam-diam diikuti oleh ten-tara Sekutu. Tentara Sekutu naik ke atas bukit dan menembakkan mortir ke bekas pertahanan TKR. Tembakan tersebut salah sasaran, bukannya mengenai para pejuang melainkan mengenai tentara Sekutu sendiri. Korban pun jatuh di pihak tentara Sekutu.

Pada saat hujan reda dan cuaca kembali cerah, terdengar bunyi peluit dari tentara Sekutut sebagai tanda pertempuran telah selesai. Pada saat itu, sisa tentara Sekutu yang ada segera naik ke kendaraan sambil membawa rekan-rekannya yang telah menjadi korban. Tentara Sekutu meninggalkan Bojong-kokosan menuju Sukabumi dan sepanjang perjalanan mereka me-nembakkan senjata secara membabi buta(wawancara dengan M. Mohtar, tanggal 12 Juni 1997).

Setelah pertempuran di Bojong Kokosan berakhir, maka satu regu TKR memeriksa bekas pertempuran. Setelah diperiksa ternyata TKR telah kehilangan 73 orang, yaitu 28 orang gugur (pasukan yang menempati tebing bagian bawah pinggir jalan seperti Suban dan Aceng), dan 45 orang gugur di sepanjang jalan Bojong Kokosan. Tentara Sekutu yang gugur diperkirakan sebanyak 50 orang(Sumber: Museum Bojong Kokosan).

Adanya tembakan tentara Sekutu yang dilakukan dalam gerakan menuju Sukabumi dibalas oleh para pejuang Indonesia. Pertempuran terus berkobar sepanjang jalur Bojong Kokosan sampai perbatasan Cianjur, seperti di Ungkrak, Selakopi, Cikukulu, Situawi, Ciseureuh sampai Degung; dan Ngaweng, Cimahpar di Pasekon Sukaraja sampai Gekbrong. Serangan terhadap tentara Sekutu mendapat bantuan rakyat yang ada di sekitar daerah tersebut(Rusman Wijaya, 1996: 67).

Pada saat tentara Sekutu tiba di Sukabumi, Komandan tentara Sekutu segera mengajak berunding para pemimpin TKR dan pe-merintah setempat, yaitu Letkol Edi Sukardi (Komandan Resimen III), Bupati dan Walikota Sukabumi, dan Dr Abu Hanifah. Tentara Sekutu minta dilakukan gencatan senjata. TKR dan pemerintah setempat menyetujui usul tersebut dan menginstruksikan penghentian tembak menembak. Pada kenyataannya, tentara Sekutu sendiri yang bertindak cu-rang dengan tidak mentaati ke-sepakatan gencatan senjata. Pada tanggal 10 Desember 1945, tentara Sekutu membombandir kota Cibadak sebagai balas dendam. Mereka dendam atas kekalahan pada pertempuran di Bojong Kokosan.

Pertempuran terjadi lagi di Cikukulu. TKR dan laskar rakyat pimpinan Kapten Juhanda dari kelompok Komando Batalyon I yang terdiri atas Mayor Yahya Bahran Rangkuti, Kapten Muktar Kosasih dan Letnan Yusuf Juharsa, yang akan mengadakan pengecekan ke Bojong Kokosan tertahan di Cikukulu. Pertempuran pun me-letus lagi. Pertempuran terus merembet ke daerah Situawi Ciseureu Karangtengah. TKR dipimpin Letnan Gowi Brata dengan senjata yang digunakan adalah granat (buatan pabrik mesiu Braat) dan senjata krembing. Dalam per-tempuran ini, TKR berhasil merebut sebuah truk berisi senjata dan perbekalan. Pertempuran berlanjut sampai di Gedung Cipelang (sekitar Talang).

Penutup

Pada mulanya kedatangan tentara Sekutu di Indonesia menemban tugas untuk melucuti dan me-mulangkan tentara Jepang serta memulihkan keamanan dan ketertiban di Indonesia. Mereka mendapat sambutan rakyat di berbagai daerah, demikian pula di Jawa Barat. Keadaan ini segera berubah menjadi kecurigaan dan bahkan memusuhi tentara Sekutu, setelah diketahui ternyata kedatangan Sekutu membonceng tentara NICA Belanda yang ingin menguasai kembali wilayah Indonesia.

Adanya tindakan tentara Sekutu dan apalagi tentara NICA Belanda yang sewenang-wenang telah menimbulkan terjadinya konflik bersenjata dalam bentukj pertempuran di berbagai daerah. Pertempuran yang terjadi sejak awal kedatangan mereka sampai menjelang pertengahan tahun 1946 menunjukan bahwa sikap tegas rakyat Indonesia yang tidak sudi lagi dijajah. Rakyat Jawa Barat di berbagai daerah, seperti terurai di atas, misalnya di daerah Bandung, Bogor, dan Sukabumi berusaha keras menentang dan berusaha mengusir tentara Sekutu dan tentara NICA Belanda.

Daftar Pustaka

Amar Djen. 1963. Bandung Lautan Api. Bandung.

Badan Pengelola Monumen Palagan Perjuangan 1945 Bojong Kokosan. 1996.

Sejarah Peristiwa Bojong Kokosan, Sukabumi: Tidak Diterbitkan.

Disjarah Kodam VI Siliwangi. 1979. Siliwangi Dari Masa Ke Masa. Bandung: PT. Granesia

Djadjusman. 1986. Bandung Lautan Api, Bandung: Angkasa.

Ekadjati, Edi S. 1980/1981. Sejarah Revolusi Kemerdekaan Daerah Jawa Barat.

Jakarta: Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional.

Muchtar, M. 1995. Sejarah Gedung Juang '45 Kotamadya Sukabumi. Badan

Penggerak Pembina Jiwa dan Potensi Angkatan 45.

Nasution, A.H. 1970. Sekitar Perang Kemerdekaan (Jilid I). Bandung: Angkasa

Poesponegoro, Marwati Djoened, dkk. 1990. Sejarah Nasional Indonesia (Jilid VI). Jakarta.

Saleh, R.H.A. Keadaan Tentara Asing di Jawa Barat Tahun 1945-1946. Simpay Siliwangi. No. 44 tahun XX/1993.

Suara Merdeka. 2 Oktober 1945.

 

sanggar paradigma