Bisakah Kita Mengerti? PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Sunday, 09 May 2010 16:54

Bahasa apa yang harus kupakai
Agar pikiranmu terbuka mengenal makna
Cahaya seperti apa yang mencerahkan
Agar kalian mau keluar dari kegelapan
Padahal telah kubangun istana dan jalan bercabang
Untuk mengantarkan kalian mewujudkan harapan
Di saat kalian tersekap dalam j urang kebodohan yang gelap
Kuulurkan tangga dan ku-acungkan obor  dengan harapan
Memberimu arah menuju puncak pendakian
Kutenun lembaran kain paling indah
Untuk menghangatkan tubuh kalian yang mengigil kedinginan

 

 

Tetapi dengan jiwa yang paling pengecut diam-diam kalian hancurkan
Membanggakan hidup dalam gulita berbalut lumpur kehinaan
Merobek pakaian dan menari dalam kebugilan memalukan
Mengumbar umpat, hujat dan fitnah menghibur diri yang terkapar
Bukankah telah kulukis namamu diangkasa biru
Diiringi genderang kemegahan mengundang decak kebanggaan
Bagaikan matahari yang menyorotkan sinar-nya
Membagi harapan sampai ke batas cakrawala
Bunga-bunga bangsa merekah merindukan kumbang dan menantikan buah peradaban

Tetapi hawa nafsu apa yang merasuki jiwa kalian
Keagungan nama dan peradabanmu kau campakkan
Kemudian lindap senyap di hinar bingar keberingasan
Tengoklah dengan mata batinmu yang paling sejati, betapa buruknya nama kalian
Sungguh kalian bukan apa-apa kecuali diperas rasa cemas berkelanjutan
Kalian lebih suka mmenjadi budak kepalsuan
Sia-sia cinta dan ketulusan kuberikan karena jiwa kalian terpenjara

Kini kalian meratapi nasib menghinakan diri dihadapan musuh-musuhmu
Menelanjangi diri untuk memuaskan para petualang
Memakai hiasan yang penuh duri dan lintah
Yang meghisap harga dirimu sampai kering
Kalian dimabukkan oleh rayuan dan janji yang ditawarkan musuh-musuhmu
Dan anehnya, kalian sungguh bersukacita membuka aib diri dan cemoohan.

Lantas, buah seperti apa yang kau harapkan
Dari benih kebencian dan kemunafiqan yang kau taburkan
Kecuali penyesalan, air mata dan kesempatan gemilang yang terbuang.

Last Updated on Sunday, 09 May 2010 21:22
 

sanggar paradigma